jump to navigation

harga BBM diragukan Desember 16, 2008

Posted by witart in tauladan.
Tags: , ,
trackback

tematik : energi vs karakter

Harga BBM Diragukan
Pemerintah Diminta Terbuka Menyampaikan Perhitungan
Selasa, 16 Desember 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas – Pemerintah diminta untuk menyosialisasikan hitungan penetapan harga bahan bakar minyak bersubsidi agar tidak terjadi simpang siur pendapat yang menyesatkan. Berdasarkan perhitungan berbagai pihak, pemerintah sebenarnya menikmati keuntungan dari harga premium dan solar saat ini.

Hal itu disampaikan Komisi VII DPR dalam rapat kerja dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta, Senin (15/12).

Pemerintah secara mendadak mengumumkan penurunan harga premium dan solar per 15 Desember 2008 hanya selang dua minggu setelah pemerintah menurunkan harga premium.

Pada 1 Desember, harga premium turun dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 per liter. Tanggal 15 Desember turun lagi menjadi Rp 5.000 per liter.

Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Tjatur Sapto Edy, menghitung, pemerintah mengantongi keuntungan Rp 570 miliar dari penjualan premium subsidi sepanjang November lalu.

Perhitungan itu didasarkan pada harga keekonomian sebenarnya premium pada bulan itu Rp 4.675 per liter atau ada selisih Rp 782 per liter dengan harga jual eceran premium yang pada waktu itu ditetapkan Rp 5.500 per liter.

Potensi keuntungan pemerintah dari selisih harga jual premium ke masyarakat pada bulan Desember 2008-Januari 2009 diperkirakan jauh lebih besar.

Dengan rata-rata harga mean of platts Singapore (MOPS) premium yang menjadi acuan 91,87 sen dollar AS per galon, harga keekonomian bensin sebenarnya hanya Rp 4.250 per liter.

Dengan perkiraan konsumsi premium selama satu bulan 1,62 juta kiloliter, pada harga jual Rp 5.000 per liter, negara mengantongi keuntungan Rp 1,944 triliun. ”Premium itu masih termasuk dalam bahan bakar tertentu yang masuk subsidi. Kalau begini caranya, kan sama saja pemerintah sekadar jualan. Apa iya dibenarkan?” ujar Tjatur.

Gugatan atas penetapan harga BBM juga disampaikan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Partai oposisi ini menangkap ada ketidakjujuran dari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dalam keputusan untuk menurunkan harga premium dari Rp 5.500 menjadi Rp 5.000 dan solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 4.800 per liter.

Berdasarkan data yang diperoleh Fraksi PDI-P dari berbagai sumber, termasuk Pertamina, harga premium seharusnya dapat ditekan hingga Rp 3.570 per liter. ”Kok tega-teganya pemerintah mengambil keuntungan di tengah kondisi masyarakat yang sulit,” kata Ketua Fraksi PDI-P Tjahjo Kumolo dalam konferensi pers di Gedung DPR, kemarin.

Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Suharso Monoarfa mengatakan, pada posisi harga minyak mentah Indonesia 40 dollar AS per barel dan harga premium Rp 5.000 per liter, pemerintah bakal menikmati surplus dari penjualan BBM bersubsidi Rp 8 triliun. ”Bahkan, kalau harga premium dikembalikan ke Rp 4.500 per liter, dalam kondisi harga minyak sekarang ini pun pemerintah masih mengantongi keuntungan Rp 270 miliar,” kata Suharso.

Ia menilai apabila pemerintah mau terbuka dengan perhitungan harga BBM, hal itu akan lebih baik untuk masyarakat. ”Kalau hitungan itu terbuka, kan, bagus. Jadi kami bisa mengerti kalau ada penghematan yang bisa dialokasikan untuk pos lain atau ada pertimbangan lain pemerintah dalam menetapkan harga. Pengusaha SPBU juga bisa membuat perkiraan untuk menghindari kerugian,” paparnya.

Pertimbangan pemerintah

Menanggapi permintaan DPR, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro hanya menyampaikan secara garis besar ada lima pertimbangan pemerintah dalam menetapkan harga BBM. Pertimbangan itu mencakup harga minyak, kurs rupiah, kemampuan anggaran pemerintah, daya beli masyarakat, dan kondisi sektor riil.

”Kalau mau melihat harga keekonomian BBM, lihat saja harga jual BBM industri yang dikeluarkan Pertamina. Kalau membandingkan dengan itu, harga premium industri masih jauh di atas harga transportasi,” katanya.

Purnomo mengatakan, pemerintah akan terus mengamati perkembangan harga. Penyesuaian harga akan dilakukan setiap bulan. Pemerintah menurunkan lagi harga premium karena harga minyak mentah di pasar internasional sudah turun.

Harga premium yang setelah turun menjadi Rp 5.000 per liter diakui Purnomo tetap masuk ke harga keekonomian. Artinya, pemerintah tidak lagi menyubsidi.

”Sebenarnya harga premium di pasar internasional saat ini sedang mengalami anomali karena lebih tinggi dari harga minyak mentahnya. Tetapi karena harga minyaknya anjlok, pemerintah putuskan, ya, kita turunkan saja dulu,” kata Purnomo.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Evita Legowo mengemukakan, pemerintah sedang mengkaji rencana membatasi peruntukan premium bersubsidi pada tahun 2010, yakni hanya untuk angkutan umum dan sepeda motor.

Pembatasan penggunaan premium bersubsidi itu bertujuan mengurangi anggaran subsidi BBM. ”Pembatasan penggunaan premium bersubsidi masih dikaji dan penerapannya sangat bergantung pada situasi perekonomian nasional,” katanya.

Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh mengemukakan, penurunan harga premium dan solar saat ini sudah sewajarnya diikuti dengan penurunan tarif transportasi dan proses produksi yang menggunakan komponen BBM.

Namun, Ketua Organda Rudy Thehamihardja menegaskan, tarif angkutan sulit turun. Hal yang sama berlaku untuk angkutan penyeberangan.

Kepala Badan Pengawas Kegiatan Hilir (BPH) Migas Tubagus Haryono mengatakan, pemerintah telah menyiapkan penunjukan langsung pendistribusian BBM bersubsidi untuk tahun depan. Dengan sistem baru ini, BPH Migas dimungkinkan mendistribusikan BBM tanpa melalui stasiun pengisian bahan bakar untuk umum. (DOT/LKT/RYO/GRE/WIE/SUT)

sumber:
kompasCetak

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: