jump to navigation

manifes bodong… Januari 19, 2009

Posted by witart in contoh buruk, regulasi.
Tags: ,
add a comment

Tematik : Manifes

Manifes “Abal-abal” Penumpang
Kapal Penumpang
Aryo Wisanggeni Gentong : Minggu, 18 Januari 2009 | 01:07 WIB

Kamis (15/1) pagi itu, gurat kelelahan masih tersisa di wajah Daeng Gassing (35), salah satu korban tenggelamnya KM Teratai Prima 0 yang ditemukan selamat. Gassing duduk minum kopi di kantin Kantor Administrator Pelabuhan Parepare, dikelilingi sejumlah orang yang menemani mengobrol.

Semua orang di kantin tahu kisah pahitnya menyelamatkan Sabir, nakhoda KM Teratai Prima 0.

Namun, ia justru kehilangan anak dan mertua dalam kecelakaan yang terjadi di perairan Majene pada 11 Januari lalu itu. Pemilik kantin, wartawan, polisi, Taruna Siaga Bencana, Brigade Siaga Bencana, hingga pegawai Kantor Administrator Pelabuhan Parepare tetap ingin mendengar sendiri penuturan Gassing.

Akan tetapi, pagi itu ia tidak bercerita. Ia malah bertanya. ”Kalau dilarang, kenapa calo tiket bisa bebas berkeliaran di sekitar kapal yang mau berangkat? Kenapa meski tidak punya tiket saya bisa naik kapal?”

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Daeng Gassing.

”Saya beli tiket di atas kapal dengan harga Rp 175.000, lebih mahal daripada jika saya membeli di agen yang Rp 150.000. Tetapi nama saya tidak ada dalam manifes penumpang. Kalau itu dilarang, mengapa dibiarkan terjadi?” tanya Daeng Gassing.

”Sebenarnya itu tidak ada, itu dilarang!” kata seorang pria berbadan besar yang duduk di sebelah Daeng Gassing.

”Ada!” Daeng Gassing memotong, ”Saya ini saksinya, saya membeli tiket dari calo,” kata Daeng Gassing.

Semua terdiam sejenak, juga pegawai Adpel Parepare yang menyimak obrolan tiket dan calo KM Teratai Prima 0 itu.

Kusutnya urusan tiket itu menjadi fatal, ketika KM Teratai Prima 0 celaka. Berapa korban kecelakaan itu? Apakah 250 penumpang dan 17 awak kapal sebagaimana manifes yang diumumkan Adpel Parepare? Jika hingga hari keenam, Jumat (16/1), pencarian, menemukan 43 korban (35 selamat, delapan tewas), berapa lagi korban yang harus dicari?

SAR Mission Coordinator Kolonel Laut (P) Jaka Santosa A, Jumat (16/1), mengakui pihaknya tidak memiliki patokan berapa jumlah korban yang masih harus dicari. Ia belum bisa menentukan karena jumlah penumpang simpang-siur. Jumlah di manifes 250 orang, tetapi banyak orang yang melapor kehilangan keluarganya.

Penumpang anak-anak

Manifes memang tidak bisa dijadikan pegangan jumlah korban KM Teratai Prima 0 karena semua anak yang usianya kurang dari 18 tahun tidak tercantum dalam manifes. Bahkan, nama salah seorang awak kapal yang ditemukan selamat, Nadjamuddin, juga tidak ditemukan dalam manifes anak buah kapal.

Staf Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Adpel Parepare Abdul Rahman menerangkan, dalam manifes penumpang tidak ada penumpang anak-anak karena manifes penumpang disusun berdasarkan nama pembeli tiket.

”Dalam manifes tidak ada nama anak-anak. Mereka tidak terdata karena tidak memiliki tiket.

Anak yang umurnya kurang dari 10 tahun digratiskan. Data manifes disusun berdasarkan data tiket,” kata Rahman.

Tidak heran jika semakin banyak warga yang melaporkan nama keluarganya sebagai korban tenggelamnya KM Teratai Prima 0.

”Sejumlah 165 nama yang dilaporkan tercatat di dalam manifes, sementara 164 nama yang dilaporkan tidak tercantum dalam manifes,” kata petugas pendataan korban KM Teratai Prima 0 dari PT Jasa Raharja Budianto di Kantor Administrator Pelabuhan Parepare.

Manifes ”abal-abal” itu hanyalah salah satu kekacauan yang menyulitkan pencarian para korban kapal itu. Data penumpang yang ditemukan pun salah dan tumpang tindih sehingga jumlah yang disebutkan lebih banyak daripada jumlah yang diselamatkan.

Kekacauan itu baru diperbaiki hari ketiga pencarian, Selasa (13/1), setelah Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat Inspektur Jenderal Sisno Adiwinoto meminta semua data manifes penumpang dan data penemuan korban diperiksa ulang.

Kelambanan pemeriksaan terhadap nakhoda Sabir juga menjadi masalah. Senin malam Sabir, yang berada di Kantor Kepolisian Wilayah Parepare, dipertemukan dengan Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal dan sejumlah pejabat lainnya. Sabir lalu mengisahkan tenggelamnya KM Teratai Prima 0 di Tanjung Baturoro.

Namun pada hari kelima pencarian, titik yang diperkirakan sebagai lokasi tenggelamnya KM Teratai Prima 0 bergeser sekitar 48 kilometer ke arah selatan lokasi itu. Jaka membenarkan kesalahan menentukan titik pencarian pada awal pencarian, memengaruhi keberhasilan pencarian.

Pada hari pertama tim pencari terfokus informasi awal bahwa KM Teratai Prima 0 tenggelam di perairan Tanjung Baturoro. Tim baru menggeser titik perkiraan lokasi setelah menerima informasi hasil pemeriksaan nakhoda.

Sulit bahan bakar

Masalah lain yang muncul adalah kapal-kapal pencari kerap tidak bisa melakukan pencarian hanya karena kehabisan bahan bakar. Pada hari kedua, kapal patroli Kesatuan Pengamanan Lepas Pantai (KPLP) Jakarta, KN Alugara, sepanjang siang tertahan di Pelabuhan Parepare karena kesulitan solar.

”Bahan bakar kami hanya cukup untuk melakukan pencarian satu hari. Kami ingin mengambil dari Pertamina, tetapi diminta membayar di muka. Ini kan darurat, bahan bakar yang kami ambil pasti dibayar,” kata Komandan KN Alugara, Samsuh A Ilyas.

Samsuh menyatakan, untuk melakukan pencarian 12 jam per hari, kapal berawak 25 orang itu harus diisi 12.360 liter solar. ”Kami mau berangkat pada Senin siang, tetapi karena dijanjikan tambahan bahan bakar, kami lalu menunggu. Hingga sore bahan bakar tidak ada, dan ketika kami akan berangkat pada Senin sore justru mesin kami yang rusak. Kami harus menunda keberangkatan tiga jam untuk perbaikan,” kata Samsuh.

Pencarian pada hari berikutnya pun selalu terkendala ketersediaan bahan bakar.

Kesulitan lain adalah cuaca yang tak bersahabat. Kapal-kapal pencari sering harus bergerak mundur karena dihadang cuaca buruk. Keluarga korban yang jengkel mengecamnya.

”Kita sudah tahu cuaca buruk dan kapal yang sudah dikerahkan tidak mampu mengatasi cuaca buruk. Akan tetapi, kenapa keesokan harinya menggerakkan kapal yang sama sehingga gagal lagi melakukan pencarian. Kenapa tidak menggerakkan kapal yang lebih besar,” kata salah seorang anggota keluarga korban dalam rapat evaluasi pencarian Kamis (15/1) malam.

Gara-gara menilai pencarian berjalan lambat, keluarga korban di Majene menyewa perahu kecil nelayan untuk mencari sendiri korban KM Teratai Prima 0.

Identifikasi korban pun menjadi soal. Keluarga diminta membawa ijazah korban yang memuat sidik jari. Melalui sidik jari, identifikasi lebih mudah dilakukan. Ijazah tentu tidak terpikirkan keluarga korban saat datang ke Parepare.

Inilah negeri bahari yang sarat kecelakaan laut. Anehnya, tidak pernah ada itikad pihak terkait untuk memetik pelajaran dari setiap tragedi maut itu. Semua pihak selalu saja gagap menghadapinya.

sumber:
kompasCetak